Aku Tidak Sekuat Itu Yah

AKU TIDAK SEKUAT ITU, YAH 

AKU TIDAK SEKUAT ITU, YAH 

         Waktu sudah menunjukkan pukul 01.05 dini hari. Hanya kamar Vanya yang 
lampunya masih menyala terang di antara ruang-ruang lain di kediaman Candra 
Winata. Di dalam kamar, Vanya mengusap wajahnya kasar, berusaha keras 
melawan rasa kantuk yang terus menyerang. Di depannya terhampar lembaran 
kertas berisi oratan rumus, berdampingan dengan tumpukan buku soal setinggi 
lampu belajarnya. "Semangat Vanya, kamu harus dapat nilai terbaik, jangan buat 
ayah dan bunda kecewa" bisiknya pelan, mencoba menyemangati diri sendiri. 
Nama lengkapnya Vanya Nalani Candra Winata, biasa dipanggil Vanya. Saat ini 
ia duduk di bangku SMP kelas 9. 

        Gema langkah kaki terdengar mendekat ke arah kamar Vanya. Pintu 
terbuka, menampilkan seorang pria bersetelan jas kantor agak kusut. "Belajar 
yang serius. Ulangan kali ini kamu harus juara satu dan meningkatkan nilai kamu, 
jangan kalah dengan teman kamu yang lain. Jangan membuat Saya malu, dan 
jangan kecewakan Bunda kamu di atas, ingat ayah sudah membayar mahal 
sekolah dan les kamu " ucap pria berusia 35 tahun itu memecah hening ruang 
kamar vanya. 

       Dia adalah ayah Vanya, Abimanyu Candra Winata namanya. Setiap malam 
setelah pulang kerja, Ayah Abimanyu selalu mengecek kamar Vanya. Bukan 
untuk memastikan putri tunggalnya itu sudah tertidur nyenyak, melainkan untuk 
mengecek apakah ia sudah belajar atau belum. 
Sejak kepergian Bunda Shela—istri kesayangan Ayah Abimanyu sekaligus 
ibunda Vanya—sang ayah lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan dan 
bersikap dingin kepada Vanya, kecuali jika itu menyangkut soal nilai akademis. 
Bunda Shela meninggal lima tahun lalu, saat Vanya masih berusia 10 tahun. 
Hari-hari berlalu hingga ulangan semester usai. Hari ini adalah waktunya 
pengambilan rapot. 

       Di dalam kamarnya, napas Vanya memburu. Keringat dingin mengucur 
basah, sementara jemarinya yang gemetar terus meremas pinggiran baju hingga 
kusut. Rasa takut dan cemas bergulung menjadi satu. Setiap kali momen bagi
rapot tiba, tubuhnya selalu merespons dengan ketegangan hebat saat menanti sang 
ayah pulang. Bagaimana hasilnya? Akankah memuaskan, atau justru... Ah, Vanya 
membenci kondisi ini. Ia merasa kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Derap 
langkah kaki yang sangat ia kenal terdengar dari balik pintu. Brak! Pintu kamar 
terdorong keras hingga membentur dinding. Ayah Abimanyu berdiri di sana 
dengan napas memburu, rahang mengeras, dan sorot mata sarat akan amarah. 
Srett! Buku rapot itu dilempar ke lantai hingga lembarannya berhamburan. Tanpa 
aba-aba, satu tamparan keras mendarat di pipi Vanya. Pipi gadis itu serta-merta 
terasa kebas. 

"Nilai apa ini, Vanya?! Nilai kamu turun dan kamu cuma dapat peringkat 
dua! Ayah sudah banting tulang untuk biaya sekolah dan les kamu. Apa semua itu 
kurang?!" bentak Ayah Abimanyu seraya sesekali memukul bahu mungil Vanya. 
"Ayah cuma minta kamu peringkat satu!" 
"Maaf, Yah... saat ulangan kemarin aku sedang sakit, jadi tidak bisa 
belajar maksimal..." jawab Vanya terbata-bata. 

      Namun, penjelasan itu tak digubris. Ayah Abimanyu terus menghujani 
Vanya dengan rentetan kata kecewa, makian, dan umpatan yang menyakitkan. 
Seketika napas Vanya tersengal hebat. Dadanya terasa begitu sesak seperti 
dihimpit batu besar, tubuhnya bergetar kencang, dan air mata meluruh ke lantai. 
Vanya panik. Meski perlakuan kasar ini bukan pertama kalinya, rasa sakitnya 
selalu berhasil meremukkan hatinya. Dengan jemari gemetar, ia meraba laci meja 
belajarnya, mengambil obat penenang yang pernah ia dapatkan dari klinik sekolah 
secara diam-diam, lalu menelannya. 

      Ayah abimanyu merasa janggal akan respon vanya saat ia memarahinya 
tadi. Ayah abimanyu merasa, vanya seperti memiliki gangguan mental. Ia cukup 
khawatir akan hal itu. Namun segera ia tepis perasaannya yang seperti itu. “ah 
tidak mungkin” gumamnya. 

      Malam itu, Vanya tertidur di atas dinginnya lantai kamar, memeluk lukanya 
sendiri. Keesokan harinya, rutinitas menyiksa itu kembali berulang. Hampir 24 
jam waktu Vanya habis hanya untuk belajar demi memuaskan ambisi sang ayah. 
Vanya tidak pernah marah atas semua perlakuan buruk sang ayah. Vanya 
hanya merasa sedih mengapa sang ayah memperlakukan dirinya yang notabenya 
anak kandung se menyedihkan ini. Vanya menyadari mungkin sang ayah merasa 
kesepian atas meninggalnya mendiang ibundanya. Dan jika sang ayah memilih 
untuk membuka hati dan memilih menikah lagi, ia ikhlas. Namun Vanya tak 
pernah melihat dan mengetahui sang ayah membawa perempuan lain. Mungkin 
sang ayah belum bisa membuka hati untuk wanita lain. 

      Sore harinya, di perjalanan pulang dari kantor, mobil Ayah Abimanyu 
terhenti di perempatan lampu merah. Tatapannya tak sengaja tertuju pada sebuah 
warung makan sederhana di pinggir jalan. Disana tampak seorang ayah berkaos 
lusuh sedang menyuapi putri kecilnya. Mereka tertawa bersama, terlihat begitu 
mesra dan bahagia dalam kesederhanaan.  

      Dada ayah Abimanyu mendadak berdesir. Ia memiliki rumah megah, 
mobil mewah, kebutuhan  tercukupi, jabatan bagus, dan hidup bergelimangan 
harta. Namun hal sesederhana itu justru tak pernah ia lakukan kepada Vanya 
semenjak kepergian bunda Shela. Selama ini ia berdalih sibuk dengan pekerjaan 
kantor dan menuntut Vanya secara berlebihan dalam hal akademis.Ada rasa 
bersalah yang perlahan menghantui dirinya, meski ego dan gengsinya berusaha 
menolak. 

      Waktu menunjukkan pukul 8.00 WIB malam Ayah Abimanyu sudah tiba 
di rumah. Hari ini ia pulang lebih awal karena pekerjaan hari ini selesai lebih 
cepat. Dengan segera ayah Abimanyu melangkahkan kaki ke lantai dua menuju 
kamar Vanya untuk memastikan putrinya belajar dengan disiplin. Namun, yang ia 
dapati adalah Vanya tertidur telungkup di atas meja belajarnya. Terlihat dengan 
jelas wajahnya pucat sepertinya kelelahan akan aktivitas belajarnya. Dan kelopak 
matanya membengkak bekas menangis. Hati ayah Abimanyu cukup terenyuh 
melihat putri semata wayangnya dengan keadaan menyedihkan seperti ini. Saat 
hendak merapikan tumpukan buku belajar vanya yang berantakan di meja 
belajarnya, mata ayah Abimanyu tertambat pada selembar kertas bertuliskan 
lembar catatan medis dari sebuah rumah sakit dan satu botol kecil berisi pil 
berwarna putih yang sepertinya adalah obat penenang. Disana tertulis diagnosis 
jelas: Gangguan panik (Panic Attack) & Kecemasan berat. 

       Tangan ayah Abimanyu gemetar saat membaca lembaran itu dan 
memegang botol berisi pil berwarna putih itu. Dadanya berdenyut nyeri. Apakah 
selama ini aku yang menyebabkan putriku seperti ini? tanyanya pada diri sendiri. 
Mengapa ia bisa tak tahu akan hal sebesar ini terjadi pada putrinya. Ayah 
Abimanyu merasa ia adalah ayah paling bodoh saat ini. Berarti selama ini Vanya 
melewatinya sendiri tanpa dukungan dari siapapun, apalagi keluarganya. Lalu 
dengan perlahan ia memindahkan tubuh Vanya ke atas tempat tidur dan 
menyelimutinya agar istirahatnya lebih nyaman. 

       Malam itu, Ayah Abimanyu istirahat dengan hati tak tenang. Ia merasa 
khawatir,sedih, marah, kecewa campur aduk. 
“Mas Abimanyu,” panggil Shela dengan senyuman hangat yang 
merindukan. 
“Shela? Istriku, benarkah ini kamu?” tanya ayah Abimanyu tak percaya, 
matanya berkaca kaca. 
Shela menatapnya lembut. “Lihatlah putri kecil kita, mas. Dia tumbuh 
besar menjadi gadis yang cantik. Aku minta sama kamu tolong jaga dia baik baik 
dan jangan sakiti dia. Tolong jangan keras keras dengannya, hatinya sangat 
lembut. Walau kini aku sudah tak bisa menemaninya lagi, tolong berikan Vanya 
kasih sayang seperti aku masih ada dulu. Dan jangan tuntut ia dengan berlebihan 
lagi, mas. Kasihan mentalnya. Vanya sangat sayang denganmu dan merindukan 
kamu yang dulu, mas.” 

         Sebelum ayah Abimanyu sempat memeluknya, bayangan Shela perlahan 
memudar dan menghilang.”Shela! Jangan pergi, Shela!”.  
Ayah Abimanyu terbangun dengan napas memburu dan air mata yang 
membasahi bantal. Ternyata semua itu hanya mimpi. Keringat dingin membasahi 
dahinya. Penyesalan mendalam akhirnya meruntuhkan seluruh ego dan 
kesombongannya. Kini ia menyadari satu hal, yaitu telah membuang banyak 
waktu dengan putrinya. 

        Pagi pagi sekali, aroma gurih nasi goreng memenuhi rumah dua lantai. 
Vanya yang baru bangun melangkah turun karena penasaran. Di dapur, ia 
mendapati ayahnya sedang sibuk menghias piring dengan telur mata sapi dan 
sosis. “Selamat pagi, Vanya sayang. Ayo sarapan dulu sebelum dingin,” sapa ayah 
Abimanyu sambil tersenyum hangat. Vanya tertegun ditangga. Rasa curiga dan 
canggung seketika menyelimuti pikirannya. Selama lima tahun terakhir, sang ayah 
tak pernah menyapa ramah, apalagi memasak untuknya.  
“Ayah ...” bisik Vanya ragu. Namun melihat sorot mata ayahnya yang 
teduh dan penuh penyesalan, Vanya perlahan mendekat dan duduk di meja makan. 
Suapan pertama nasi goreng itu terasa sangat familiar. Rasa nikmat masakan sang 
ayah yang dulu selalu ia rindukan. Vanya menyantapnya dengan lahab, menahan 
rasa haru yang mmbuncah. “Vanya, nanti malam jam tujuh, sepulang dari kantor 
Ayah berniat mengajakmu makan malam di luar. Kamu bisa?” tanya Ayah 
Abimanyu lembut. “Bisa, Yah,” jawab Vanya pendek, meski hatinya masih 
menyimpan sedikit rasa tidak percaya.  

         Malam harinya, sebuah restoran yang tenang menjadi saksi bisu pertemuan 
mereka. Setelah selesai makan malam, Ayah Abimanyu meraih kedua tangan 
Vanya yang berada di atas meja. “Vanya sayang... Ayah ingin meminta maaf” 
tutur Ayah Abimanyu dengan suara bergetar. Kaca kaca air mata mulai 
menggenang di pelupuk matanya. “Atas semua perlakuan buruk ayah kepadamu 
selama ini. Ayah yang kasar, cuek, dan selalu memaksakan ambisi Ayah 
kepadamu. Ayah sungguh menyesal sekarang. Ayah sadar permintaan maaf ini 
sangat terlambat...”. Vanya terpaku, menatap wajah Ayahnya yang kini tampak 
sangat rapuh. “Di usia kamu yang masih remaja, seharusnya Ayah menemani 
kamu tumbuh, merawat kamu, dan jadi pelindung kamu. Izinkan Ayah 
memperbaiki semuanya ya? Ayah akan belajar jadi ayah yang baik untuk kamu.” 
Pertahanan Vanya runtuh. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya 
menetes deras. Rasa takut dan luka yang mendekam selama bertahun tahun seolah 
terangkat seketika. “Iya, Yah... aku mau,” sahut Vanya diantara isak tangisnya. 
“Ini... hari yang paling aku tunggu tunggu selama lima tahun belakangan ini”. 
“Vanya, ayah boleh bertanya?” tanya ayah Abimanyu ragu. “Mau tanya apa, 
yah?”. tanya Vanya. “ Semalam saat ayah masuk kamar untuk mengecek kamu, 
ayah menemukan lembaran kertas bertuliskan kamu di diagnosis gangguan panik. 
Ayah mengerti mengapa kamu menyembunyikan itu semua terlepas dari 
hubungan kita lima tahun belakangan ini. Ayah juga sadar bahwa ayah yang 
menjadi alasan kamu memiliki gangguan itu. Ayah mengucapkan maaf sebesar 
besarnya, ya. Ayah akan menemani kamu berproses sampai kamu sembuh ya.” 
terang Abimanyu panjang lebar dengan tulus. “iya, yah aku sudah memaafkan 
ayah sejak ayah belum meminta maaf. Sekarang kita buka lembaran baru yang 
lebih baik dari hari kemarin ya, yah.” Malam itu di bawah pandar lampu restoran 
yang hangat, tak ada lagi sekat ambisi dan ketakutan. Hanya ada dua insan yang 
saling memeluk dan berjanji untuk menyembuhkan luka bersama.  

         Abimanyu akhirnya mengerti bahwasanya tugas terhebat seorang ayah 
bukanlah menuntut anaknya menggenggam dunia, melainkan menjadi tempat 
pertama yang paling aman ketika dunia membuat sang anak terluka.  

Tuliskan Komentar Anda