Alkisah di sebuah desa bernama Banyu Biru, hiduplah seorang gadis
bernama Tiara dan ibunya bernama Lestari, mereka berdua hidup sederhana di
gubuk kayu dekat Pantai. setiap hari kerjaan mereka cuma satu : melaut dan
menjemur ikan, Lestari mendorong Perahu kayu kecilnya ke tengah laut sebelum
fajar, Tiara di darat, tugasnya membersihkan ikan dan menjemur nya di atas
tampah bambu, bau garam dan amis sudah jadi teman sejak Tiara kecil. Tiara
ditinggalkan ayahnya dari kecil dan tidak pernah kembali lagi ke desa itu.
Namanya Firman. dulu Firman Pamit "merantau cari rezeki ke Jakarta” katanya
cuma dua tahun tapi sampai Tiara umur 16 Tahun sekarang tidak ada kabar.” "Bu,
ayah dimana?" tanya Tiara kecil dulu "Di jakarta nak. cari uang buat kita," jawab
Lestari sambil tersenyum, Padahal matanya berkaca-kaca. Di kota, ayahnya
bernama Firman hidup mewah dan sudah berumah tangga lagi. dia menikah
dengan Bu Dewi, anaknya seorang pengusaha kaya raya .
Rumahnya besar, ada mobil ada pembantu. Firman sudah lupa dengan
anak dan istrinya yang tinggal di Gubuk Banyu Biru. Hidup Tiara dan Lestari
terus seperti itu, Pasang Surut, kadang dapat ikan banyak, kadang cuma cukup
untuk mereka makan sehari-hari. tapi mereka tetap bahagia, sampai suatu hari.
Lestari Pulang dengan keadaan badan demam tinggi."Bu kenapa?"Tiara Panik,
"Gak apa-apa....cuman masuk angin aja" kata Lestari Berbohong kepada Tiara.
Tiga malam Lestari demam, malam keempat, di bawah lampu yang redup Lestari
menggenggam tangan Tiara erat. "nak... dengarkan ibu baik-baik "Iya bu". "ibu
bertemu teman ayahmu di Pasar dia bilang lihat ayahmu di jakarta sudah pakai
dasi, naik mobil, sudah punya istri baru yang cantik, sudah lupa sama kita.” Tiara
diam dadanya sakit. "tapi bu..."ssst dengerin "Potong Lestari, "kalau nanti kamu
sudah 17 tahun... Pergilah ke jakarta Cari ayahmu ini alamatnya , mungkin
hatinya masih Ada buat kita kalau tidak... Setidaknya kamu tahu jawaban" Tiara
mengangguk sambil menangis.seminggu kemudian, Lestari meninggal , di
pelukannya terakhir .
Lestari berbisik jadilah kuat seperti karang nak . setelah ibunya meninggal,
Tiara tinggal sendiri di Gubuknya, satu tahun kemudian dia berumur 17 tahun dia
menjual satu satunya gelang emas Peninggalan ibunya. uangnya buat ongkos ke
jakarta dengan naik bus ekonomi Tiara sampai di jakarta. dengan alamat di tangan
dan Foto lama, dia bertanya kesana kemari, akhirnya dia berdiri di depan gerbang
besi hitam yang megah "permisi, pak... ini rumah Pak Firman?" tanya Tiara pada
satpam. Belum dijawab, seorang wanita keluar dari dalam. Dandanannya menor,
pakai kalung emas besar. itu bu Dewi. “Cari siapa?" ketusnya, matanya menilai
Tiara dari sandal jepit sampai ujung rambut." bu saya cari pak Firman ayah saya"
jawab Tiara gugup . Bu Dewi langsung berkata "suami saya tidak punya- anak
dari kampung, salah alamat kamu, sana Pergi "bukan bu saya punya alamatnya
ini" Tiara menyodorkan kertas" aku bilang pergi!" bentak bu Dewi "suami saya
belum pulang kalau mau nunggu, nunggu di luar sana sampai jam 5 sore" Tiara
menunduk.. air matanya hampir jatuh. "baik bu terimakasih". akhirnya Tiara Pergi
dari rumah itu dan mencari kontrakan kecil yang tidak jauh dari rumah Pak
Firman .
Jam 5 sore Tiara kembali. Tangannya gemetar memegang Foto. pintu
gerbang terbuka Firman keluar memakai kemeja mahal dan Jam tangan mewah
Tapi wajahnya... wajah yang sama di Foto lama. "siapa kamu?" tanya firman,
suaranya berat. "yah, aku tiara, anak ayah," jawab Tiara lirih Sambil menyodorkan
foto lama mereka 17 tahun yang lalu. Firman terdiam. Matanya berkaca-kaca,
tangannya bergetar saat memegang Foto itu. "Tiara...? anakku ?” "Iya yah." tiba
tiba Firman menarik Tiara ke dalam pelukannya yang erat" maafkan ayah nak
ayah Pengecut, ayah lari dari tanggung jawab dari dalam rumah Bu Dewi
keluar.wajahnya dengan penuh amarah melihat mereka berdua berpelukan!” ”apa
apaan ini Firman, ini siapa?!". "ini anakku Dewi, anakku dari Banyu Biru, "jawab
Firman tegas. Bu Dewi terkejut. Lalu wajahnya berubah sinis. "anak kampung?
yang mau minta harta kita? tidak bisa! aku tidak mau ada anak haram dirumah
ini!". "Dewi ! jaga mulutmu!" bentak Firman "sekarang kamu pilih dia atau aku?",
Firman menoleh ke Tiara. Matanya penuh bersalah. Tiara hanya diam. Hatinya
hancur , Tiara mengusap air matanya . dia menggeleng pelan .
“gak apa – apa yah , aku ngerti aku Cuma mau tahu ayah masih ingat sama
aku dan ibu atau tidak , sekarang ibu sudah meninggal . sekarang aku juga sudah
tau kalau ayah memilih hidup disini.”Tiara akhirnya pasrah dan kembali ke
kampung . dia tidak membawa apa – apa kecuali foto itu dan luka dihati. Bu Dewi
tidak bisa menerima Tiara . dan Tiara tidak mau jadi beban . Di Banyu Biru .
Tiara memulai hidup baru untuk memulai usaha sendiri . dia jualan keliling , Pagi
jualan ikan asin , sore julan kerupuk ikan buatan sendiri . Awalnya orang – orang
menertawakan dan mengejek Tiara tapi Tiara tidak peduli . Dia kerja dari subuh
sampai malam . Rasa sakit di hatinya mengingatkannya untuk bangkit.
Hari pertama Tiara jualan kerupuk , Dia pikul tampah bambu keliling desa.
Mataharinya panas banget, keringatnya bercampur garam di pipi “ Kerupuk.....
kerupuk ikan emas Banyu Biru ......baru digoreng.....” suaranya kecil . Yang lewat
malah pada ketawa “Lah itu Tiara anaknya Lestari to?” Mau jualan? Yang ada
nggak laku!” kata Bu RT sambil ngelengos. “ih amis banget . Mending minta aja
sama Pak Firman di Jakarta. Kan ayahnya orang kaya,” ejek anak-anak sambil
melempar kulit mangga.
Malam itu Tiara nangis di gubuk. Tampahnya masih penuh, kerupuknya
gak ada yang beli. Dia peluk foto ibunya erat-erat. “Bu sakit ya dihina orang?”
bisiknya. Tapi besok paginya dia bangun lagi jam 3 subuh. Menggoreng lagi.
Menjemur lagi. “ Kalau aku berhenti sekarang, berarti omongan mereka bener,”
gumam Tiara sambil ngusap tangan kapalnya. Sebulan, dua bulan ..... lama – lama
baunya kerupuk goreng Tiara bikin orang penasaran. Anak-anak yang dulu
ngejek, sekarang malah ngantri. “ Mbak Tiara, 2 bungkus ya. Yang pedes!” Tiara
Cuma senyum. Di dalam hatinya dia jawab: ini bukan Cuma kerupuk. Ini harga
diri ibu. Setelah usahanya bertahun – tahun. Kerupuk ikan Tiara mulai terkenal.
Dari mulut ke mulut warung kecilnya di pinggir pantai mulai ramai. Dia kasih
nama “ Kerupuk Emas Banyu Biru” .
Lima tahun kemudian , Tiara punya pabrik kecil . Dia mempekerjakan ibu – ibu desa . kerupuknya masuk toko besar di kota . Punya pesanan gede itu gak
gampang. Dapur gubuk Tiara nggak muat lagi. Dia harus pinjam uang ke bank. “
Maaf Mbak, kami nggak bisa kasih pinjaman. Nggak ada jaminan,”kata pegawai
bank. Tiara pulang dengan langkah gontai. Malamnya dia nggak tidur. Dia itungin
uang receh dari toples. Kekurangan 10 juta. Akhirnya dia jual satu – satunya
motor tua peninggalan ayahnya dulu. Ditambah uang tabungan 3 tahun . Cukup
buat sewa ruko kecil dan beli 2 wajan besar.
Hari pertama buka pabrik, Cuma ada 3 ibu – ibu yang mau bantu. “Mbak
Tiara, kita digaji berapa? “ tanya Bu Mirna. “Bu, sekarang kita bagi hasil dulu ya .
Kalau laku, kita bagi rata. Saya janji,” kata Tiara sambil nunjukin catatan. 6 bulan
pertama rugi. Listrik mati, kerupuk gosong, pesanan dibatalin. Tiara pernah 3 hari
nggak makan, Cuma minum air putih biar uangnya bisa buat bayar gaji ibu – ibu.
“Mbak, kami percaya sama Mbak, “ kata Bu Mirna sambil nyodorin nasi. “Makan
dulu. Kita mulai lagi besok.” . Setahun kemudian, pesanan dari Surabaya masuk.
1 kuintal. Tiara sujud syukur di lantai pabrik yang masih berlantai semen. Dari 3
karyawan, jadi 20 . Dari ruko kecil , jadi pabrik beneran ada gerbangnya. Di
gerbang itu dia tulis: “ PT. Kerupuk Emas Banyu Biru – Dari Garam Menjadi
Berkah” .
Akhirnya wartawan datang . dan reporter bertanya pada Tiara Bu Tiara, “ apa
kunci kesuksesannya?"tanya reporter. Tiara tersenyum. menatap laut " saya
ditempa dari garam, air mata dan do'a. Saya tidak punya siapa-siapa, jadi saya,
harus jadi segalanya untuk diri saya sendiri . Reporter terdiam. Tiara menarik
napas panjang. “ Dulu saya dihina , ditertawakan , bahkan diusir dari rumah ayah
saya sendiri. Tapi saya tidak pernah berhenti . Karena saya ingat pesan ibu saya:
Jadilah kuat seperti karang nak , jangan sampai terhempas ombak .” Tiara
menunjuk para karyawan di belakangnya . “ kunci saya Cuma satu : kerja keras
dan tidak malu memulai dari bawah . Hari ini saya mungkin punya pabrik , tapi
dulu saya juga mulai dari jualan keliling pakai tampah bambu .”
Setelah wawancara itu , hidup Tiara berubah . Banyak orang datang buat
belajar ke pabriknya . Tiara nggak pernah sombong . Tiap ada anak muda yang
putus asa , dia selalu bilang : “Aku dulu juga gitu. Tapi lihat sekarang . Laut aja
bisa jadi garam , masa kita nggak bisa jadi apa – apa? “ Sampai sekarang , tiap
sore Tiara masih duduk di dermaga . Menatap laut . Dan berbisik : “ Bu , kita
berhasil . “
" Akhirnya Tiara menjadi terkenal berkat usahanya Sendiri. Bukan karena
Pak Firman. Bukan karena harta Bu Dewi Tapi karena dua tangan yang kapalan
dan hati yang tidak pernah menyerah. Suatu hari ada surat datang. Dari Jakarta.
Dari Firman. "Nak, ayah minta maaf. ayah sakit, ayah ingin bertemu denganmu
sekali lagi." Tiara membaca surat itu lama. lalu dia melipatnya dan meletakkannya
di laci. Dia tidak membalas. Bukan karena benci. Tapi karena dia sudah
memaafkan. Dan dia sekarang sudah punya kehidupan sendiri. warga Desa
sekarang memanggilnya "Tiara Si Gadis Emas", bukan karena dia kaya, tapi
karena dari lumpur dan garam dia menempa diri nya jadi emas. Di Banyu Biru
tidak ada istana, tapi ada Tiara berdiri di depan Pabrik kecilnya, dengan laut di
belakangnya, dan senyum yang lebih mahal dari emas.


Tuliskan Komentar Anda