Aku Dan Keluarga Cemara Ku

AKU DAN KELUARGA CEMARA KU

AKU DAN KELUARGA CEMARA KU

     Bagiku rumah mewah itu bukan istimewa, tetapi rumah sederhana yang
isinya bahagia. Suatu hari ada seorang gadis bernama Sita. Dia seorang kakak
yang memiliki 1 saudara, ia dan adiknya hanya berbeda 1 tahun. Sita duduk
dikelas 11 dan adiknya baru masuk kelas 10, Adiknya bernama Iki.

    Suatu hari Iki dan Sita berangkat sekolah, ibunya sudah menyiapkan
semua kebutuhan Iki dan Sita, seperti menyiapkan sarapan, bekal Iki dan Sita, tak
berselang lama ayah sudah bangun, ayah pun tidak lupa mengucapakan selamat
pagi kepada Iki, Sita dan ibunya.

    Setelah Iki dan Sita selesai sarapan ia berpamitan kepada kedua orang
tuanya karena jam menunjukkan waktunya buat kesekolah, ibu dan ayahnya selalu
mencium Iki dan Sita di bagian pipinya dan mengucapkan semangat anak-anak
sebelum berangkat kesekolah.

    Dua puluh menit kemudian Sita dan Iki sudah sampai di sekolahannya,
Sita masuk ke kelas, setelah sampai ke kelas, temen Sita yang bernama Ica dengan
nada sombong memamerkan barang mewah yang ia miliki, yaitu iPhone 17 Pro
Max, ia sempat mengejek Sita yang hanya memiliki handphone Android yang
harganya ga seberapa.

    Ia merasa sedih tetapi ia ingat bahwa Ica mendapatkannya karena gengsi,
tetapi ia mendapatkan handphone Android itu bukan karena gengsi, maupun
keinginan Sita, tetapi karena ibu dan ayahnya yang menyayanginya dan inisiatif
sendiri buat memberi handphone itu, meskipun sudah di ejek Sita tidak terlalu
memikirkan ejekan itu, karena ia ingat bahwa ia sangat disayanggi oleh kedua
orang tuanya, dan orang tuanya tidak pernah membeda-bedakan Sita sama Iki,
ibunya selalu adil dalam membagi apapun itu kepada Sita dan Iki.
Kringg kringg

     Bel istirahat pun berbunyi, Sita dan Iki tidak lupa memakan bekal yang
dimasakan ibunya dengan penuh kasih sayang.
Iki pun mengatakan, "Emh..., masakan ibu emang paling the best."
Setelah bekal sudah habis, Iki dan temannya bergegas menuju kekantin untuk
membeli cemilan, Iki dan temannya tidak sengaja bertemu kakaknya Iki yaitu
Sita, Sita pun memanggil adiknya "Iki...", Iki yang kebingunan siapa yang
memanggilnya bergegas mencari sumber suara, akhirnya Iki menoleh.
Iki mengatakan, "Eh.. kakak, kenapa kak??"

    Sita pun menceritakan semua kejadian saat Ica mengejek Sita tadi, disitu
Iki wajahnya mulai memerah karena ia tidak terima kakaknya di ejek, Sita yang
sudah mengetahui bahwa Iki marah, ia pun mengatakan "Sudahh ki.., kakak tidak
apa - apa,kakak juga tidak mempedulikan ejekkan Ica tadi."

     Setelah Sita mengatakan ucapan itu Iki pun mulai tenang, saat Sita dan Iki selesai
berbicara, tiba-tiba ada panggilan, seluruh anggota OSIS berkumpul dititik
kumpul Sita yang merupakan bagian dari OSIS segera menuju ke titik kumpul.
Iki yang ingin kekantin bersama teman-temannya juga segera membeli apa
yang dia inginkan, Iki dan teman-temannya juga sempat cerita-cerita ditempat
duduk yang sudah disiapkan oleh kantin, tidak berselang lama terdengar bel
masuk kelas, Iki dan teman-temannya segera masuk kelas, Sita juga segera masuk
ke kelasnya karena kumpul sudah selesai.

     Satu jam berlalu sudah memasuki bell pulang, karena Iki pulang pergi
sekolah bersama kakaknya ia harus menunggu kakaknya diparkiran, karena ia
sudah pulang duluan, karena kelas 11 lebih banyak kegiatan jadi Sita pulang lebih
lama, setelah kegiatan selesai Sita bergegas ke parkiran karena ia mengetahui
bahwa adiknya sudah pulang duluan.

      Lima menit kemudian Sita sudah sampai diparkiran, ia mengucapkan maaf
karena Iki sudah menunggu lama, Iki pun memaafkan karena itu sudah kewajibannya, setelah perjalanan pulang akhirnya Iki dan Sita sudah sampai rumah, rupanya ibu dan ayahnya sudah menunggu Sita dan Iki di teras, mereka
bergegas memeluk Sita dan Iki.

   Ibu dan ayahnya pun bertanya sambil berjalan menuju ke dalam rumah
kepada Iki "Gimana nih sekolah hari ini.." Iki pun menjawab "Asik buu,yahh" ibu
dan ayahnya pun tidak lupa juga menanyakan kepada Sita, Sita menghela nafas
yang berat "Emm,hari ini ada kejadian yang bikin Sita sedih.. buu yahh.." ibu dan
ayahnya pun bertanya "Kenapa sedih sayang?,apa yang bikin kamu sedih?" Sita
pun menceritakan yang membuat ia sedih, setelah ia menceritakan samapai
selesai, Iki, ibu dan ayahnya langsung memeluk Sita karena mata Sita mulai
berkaca-kaca, Sita pun menangis dipelukan keluarganya.
Setelah Sita sudah tenang dan menghapus air matanya, ibu Sita memberi
solusi dengan nada lembut sambil mengusap air mata Sita "Sudah Sita...,jangan
dimasukkan ke hati,toh dia juga dapet itu dari gengsi kan?" lalu Sita pun
mengangukan pelan kepalanya.

    Ayah Sita pun membuat lolucon buat mencairkan suasana rumah yang
sebelumnya haru,sunyi menjadi penuh tawa, Sita bersama keluarganya pun
menjadi tertawa bersama, yang sebelumnya rumah penuh air mata menjadi rumah
penuh dengan tawa.

    Dirumah yang sederhana itu,mereka membuktikan bahwa kebahagiaan
sejati bukan lah dari barang mewah,setelah waktu menunjukkan pukul 17.30 Sita
bergegas untuk mandi karena langit sudah mulai gelap,tak berselang lama Sita
pun selesai mandi, ia dandan layaknya perempuan diluaran sana, ibu ayah dan Iki
pun tak lupa memuji Sita dengan penuh kasih sayang, Sita pun tertawa kecil.

    Setelah beberapa menit berlalu ayah izin ke ibu buat keluar sebentar, ibu
pun mengizinkan ayah yang ingin keluar, Sita yang ingin tau kemana ayahnya
pergi, diam-diam ia mengikuti ayahnya dari belakang, tetapi tempat yang
didatangi ayah terlalu ramai sampai-sampai Sita kehilangan jejak ayahnya.

    Sita pun memutuskan buat pulang saja karena ia tidak menemukan
ayahnya, Sita berjalan sambil berfikir "Kira-kira ayah tadi kemana ya?", Sita pun
teringat bahwa hari itu adalah hari spesial ayah dan ibunya.
"Oh iya,hari ini kan anniversary ayah sama ibu,pasti ayah membeli hadiah buat
ibu nih,aduh so sweet deh", Sita mengatakannya sambil senyum-senyum sendiri.
Tak berselang lama Sita pun sampai rumah, ia pun langsung menuju ke
kamar Iki buat ikut merayakan hari spesial itu, Iki pun dengan penuh semangat
mengiyakan ikut merayakan.

    Iki pun mulai mengechat ayahnya "Yah,hari ini hari anniversary,ayah
sama ibu ya?", setelah Satu menit menunggu balesan ayahnya, ayah pun
membalasnya "kok kamu tau ki?,jangan bilang ibu ya,ini spesial".Iki pun
menjawab "aku sama kakak boleh bantu ga yah?" ayah pun menjawab "wah,boleh
banget dong sayangku".

    Iki dan Sita pun senang karena ayah ngeizinin buat ngrayain momen
spesial itu, Iki sebelumnya bertanya "yah,udah pulang apa belum?", ayah pun
menjawab "ayah tinggal 100 km lagi sayang". Sita pun mempunyai ide buat
ngerjain ibunya, Sita pun berbisik pelan kepada Iki :"dek,aku punya ide,gimana
kalau listrik nya kita matiin dulu,kan ayah juga bentar lagi sampai", Iki pun
menjawab : "eh,ide bagus tuh boleh kak".
Iki pun bertanya : "eh tapi aku lewat mana kak?" Sita pun menjawab :
"lewat jendela lah dek, mau lewat depan juga ada ibu kan?", Iki : "eh iya juga ya".
Iki dan Sita pun mematikan listrik, tak berselang lama ibu memanggil Sita dan Iki.
Ibu: "Ta,ki,kalian dimana?,lagi padam kah listrik nya?"
Ibu bingung kenapa tidak ada jawaban, beberapa menit kemudian Iki dan Sita
bertemu ayah, Sita pun menarik pelan ayahnya sambil berbisik : "yah Sita sama
Iki disini ayo kita rayain bareng".
Ayah pun menjawab : "eh- eh,iya- iya".

     Tak berselang lama ayah pun membuka pintu, Iki dan Sita pun
menyalakan kembali listrik nya, lampu" pun menyala terang, ibu pun terkejut
mendapati ayah,Sita dan Iki sudah berada di depan pintu rumah, di tangan ayah
ada bunga kecil dan tak lupa ia membeli coklat kesukaan ibu. Iki dan Sita pun
mengucapkan: "happy anniversary ayah dan ibu", ibu pun terharu, Iki,Sita dan
ayah pun bergegas memeluk sang ibu, ibu masih tidak menyangka suami dan
anak-anaknya begitu ingat dengan momen spesial ini.
Ayah pun memberikan coklat dan bunga kecil itu ke ibu, tidak lupa ayah
mencium kening ibu dengan penuh kasih sayang, Sita dan Iki pun menyorak i
ayah dan ibu "cie-cie". Setelah suasana haru mulai mereda, ayah mengajak
keluarganya untuk berkumpul di meja makan, ternyata ayah juga sempet membeli
nasi goreng langanan mereka, selama mereka makan,mereka makan dengan penuh
tawa, ayah menceritakan betapa paniknya saat ia mengetahui bahwa Sita
membuntuinya dari belakang,sehingga ayah harus bersembunyi didalam
kerumunan orang, Sita pun tertawa karena mendengarkam cerita ayahnya.
Sita dan Iki sangat lah bersyukur karena dikalangan banyak anak yang
orang tuanya cerai,Alhamdulillah siti dan Iki tidak merasakan hal tersebut, Sita
membatin di dalam hatinya: ternyata malam yang penuh keharmonisan ini lebih
mewah dari pada iPhone 17 Pro Max punya Ica, dari situ Sita sadar bahwa : Ica
memang bisa memamerkan benda mati itu,tetapi benda mati itu tidak bisa
menggantikan pelukan yang terasa begitu hangat dan keluarga yang penuh kasih
sayang, karena sita selalu didukung oleh keluarganya, membuat dirinya tidak
merasa minder, dan tidak mempedulikan ejekkan teman temannya,
dirumahnya,sita selalu mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari keluarganya,
menurut sita hal seperti itu jauh lebih penting, dari pada barang mati yang didapat
karena gengsi

Tuliskan Komentar Anda