Ailla adalah gadis pedesaan dari Indonesia yang memiliki harapan besar
untuk mengejar mimpinya di Negeri Keajaiban Sungai Han. Mungkin sudah tidak
asing lagi bagi kita, di manakah Negeri Keajaiban Sungai Han itu? Negara itu
adalah Korea Selatan (한국) atau sering juga disebut sebagai Negeri Ginseng. Di
sana, akar herbal telah menjadi bagian integral dari pengobatan tradisional, kuliner, budaya, serta roda perekonomian masyarakat setempat selama berabad-abad. Negara tersebut terkenal dengan dunia K-Pop nya yang sangat mendunia,
Namun, bukan hanya bagi Ailla, keberhasilan menggapai mimpi besar
melangkahkan kaki agar dapat bekerja di Korea Selatan itu memang tidak lah
mudah. Bahkan, mungkin hanya sekitar 10% perempuan yang berhasil lolos untuk
bekerja di sana. Persaingan yang ketat, ujian bahasa yang rumit, hingga kesiapan
fisik dan mental sering kali menjadi badai yang menenggelamkan impian banyak
orang sebelum mereka sempat melangkah ke bandara.
Mungkin beberapa orang terlahir dengan keberuntungannya, namun
beberapa orang lainnya terlahir untuk mencari keberuntungan mereka sendiri
melalui jalan yang terjal. Berasal dari keluarga sederhana, rumah tua yang atapnya
kerap bocor saat hujan deras, dan desa kecil dengan banyak cerita, Ailla tidak
terburu-buru untuk bersaing dengan siapa pun. Ia tidak menaruh dendam pada
takdir, ia hanya ingin mengubah cerita hidupnya dan memenangkan pertempuran
yang belum pernah dimenangkan oleh kedua orang tuanya.
Sebagai anak kedua dari dua bersaudara, tanggung jawab moral yang ia
pikul terasa begitu nyata. Di saat dunianya terasa hancur dan melelahkan, Ailla
harus selalu ingat bahwa ia adalah seorang adik dan anak terakhir yang juga
menjadi harapan terakhir bagi keluarga. Beban sebagai ‘peluru terakhir’ ini sering
kali terasa menyesakkan dada. Mungkin pribadinya terlihat tenang, ramah, dan
selalu tersenyum di depan orang lain. Namun, tanpa mereka ketahui, Ailla lah yang memikirkan semuanya sendirian saat malam tiba masa depannya, nasib orang tuanya yang mulai menua, dan naasnya, semua kekhawatiran besar tersebut
hanya bisa dipendam olehnya sendiri di dalam keheningan kamar.
Saat Ailla berumur sembilan tahun, sebuah keajaiban kecil datang.
Ia mendapatkan ponsel pertamanya, sebuah gawai murah dengan layar yang
terkadang tersendat. Namun, momen itulah yang perlahan membawanya
menemukan tujuh sosok pemuda dari Korea Selatan yang kini ia sebut sebagai
'rumah' keduanya. Internet mempertemukannya dengan tujuh anak muda dari
sudut kota dan latar belakang yang berbeda pula. Takdir menyatukan mereka
menjadi satu kekuatan besar yang mendunia. Kebersamaan serta ketulusan mereka
dalam bermusik kini telah berubah menjadi tujuh sosok pelindung yang begitu
Ailla kagumi dan menjadi inspirasi terbesar dalam hidupnya. Melalui lagu-lagu
mereka, Ailla mendengar pesan untuk mencintai diri sendiri dan terus berjalan
meski seluruh dunia meragukannya.
Kehadiran mereka mengubah total cara pandang Ailla terhadap dunia.
Keterbatasan finansial keluarga bukan lagi dianggap sebagai tembok penghalang
yang mengurungnya di dalam desa, melainkan menjadi alasan kuat dan bahan
bakar utama baginya untuk melangkah lebih jauh, menyeberangi lautan lewat
bahasa yang mulai ia pelajari secara autodidak.
Anak berumur sembilan tahun manakah yang memiliki tekad sebulat itu?
Belajar bahasa tersulit ke-4 di dunia, tata bahasa yang rumit, menghafal huruf
Hangul, dan memahami aturan batchim walau masih duduk di kelas empat SD
tanpa dibantu oleh guru les atau siapa pun? Ailla-lah orangnya. Bagi orang
dewasa yang melihatnya, mungkin terasa mustahil bagi anak sekecil itu untuk
konsisten belajar bahasa asing sendirian di tengah keterbatasan fasilitas. Namun,
yang sedang mereka ragukan adalah Ailla—seorang anak yang tumbuh dewasa
lebih cepat dari usianya, yang harus mengusahakan dan memperjuangkan setiap
jengkal mimpinya dengan kedua tangannya sendiri.
Bagi anak seusianya, gawai mungkin hanyalah taman bermain digital
untuk mencari hiburan, menonton kartun, atau sekadar bermain gim tanpa beban.
Namun, di saat anak-anak lain tenggelam dalam kesenangan semu layar gawai,
Bocah sembilan tahun ini justru mulai gigih mempelajari bahasa asing demi
mengejar mimpi besarnya. Ia mengunduh lembar kerja mandiri, mencatat
kosakata baru di buku tulis sekolahnya yang murah, dan melatih pelafalan kata
demi kata di depan cermin tua yang retak di sudut kamarnya. Tidak jarang jarinya
terasa kaku dan matanya berat karena memaksakan diri membaca aksara asing itu
hingga larut malam. Namun, rasa lelahnya runtuh tiap kali memikirkan wajah
kedua orang tuanya. Ia paham betul bagaimana keterbatasan ekonomi orang
tuanya. Alih-alih mengeluh atau merengek meminta fasilitas mewah, ia
memanfaatkan akses belajar gratis untuk belajar secara mandiri. Ia ingin
membuktikan kepada dunia bahwa kemiskinan tidak akan pernah mampu
menyurutkan langkahnya untuk menjemput impian.
Tentu saja, bohong rasanya jika ia tidak pernah merasa iri. Ada saat-saat di
mana hatinya mencelos melihat teman-teman sebayanya yang masa depannya
sudah tersusun rapi oleh orang tua mereka—mereka yang jalannya sudah
dipermudah dengan uang, fasilitas, dan jaminan masa depan. Sementara Ailla? Ia
harus berjalan di atas duri. Tanpa bantuan 'orang dalam' yang punya kuasa, tanpa
masa jaya atau warisan harta dari orang tua, dan tanpa relasi saudara yang
berpengaruh, ia mencoba memberanikan diri untuk melompat tinggi mengejar
mimpi ke Korea Selatan.
Meski perjalanan ini sungguh sulit, penuh air mata yang disembunyikan,
dan kerap kali melelahkan, Ailla menolak untuk menyerah kalah. Ia percaya
bahwa ketika bumi tidak memberinya jalan kemudahan, langit selalu terbuka
lebar. "yaAllah... jika memang aku ditakdirkan untuk mengangkat derajat
keluargaku maka sukseskanlah aku diatas keraguan dan ketidakyakinan orang lain
jika aku memang ditakdirkan untuk memperbaiki rezeki keluarga ku maka
tariklah pundakku untuk menuju rezeki yang engkau ridhoi Isilah ruang kosong
dihatiku dengan hal-hal yang baik ridhoi aku untuk membahagiakan keluarga
terutama untuk sukses sebelum usia orang tuaku yaAllah aku sangat
membutuhkan kunfayakun-MU" Ailla percaya dengan ia terus berusaha dan
berdoa, Tuhan pasti memiliki 'jalur langit'—sebuah takdir indah yang dirajut
khusus oleh-Nya—yang akan menuntun langkah kaki kecilnya menuju Negeri
Keajaiban Sungai Han dan memeluk mimpi tersebut menjadi kenyataan.
Sekarang Ailla adalah siswi kelas 8 SMP. Di tengah riuk pikuk kehidupan
sekolah dan tugas-tugas yang menumpuk, ia masih menggenggam erat tekad yang
sama. "Aku masih mengejar mimpi yang belum bisa aku tunjukan ke siapa pun.
Belum ada hasil, belum ada kabar baik, bahkan belum ada cerita yang layak untuk
aku banggakan. Sekarang yang ada masih cuma aku, dan hari hari yang terus ku
jalani meski sering tidak yakin apakah langkah ku sudah benar. Orang lain
melihatku biasa saja. Tidak sedang menang, tidak juga terlihat berjuang, padahal
di dalam diamku, aku sedang mempertahankan satu hal terakhir agar tidak mati
lebih dulu dari tubuhku yaitu harapanku. Dan kalau suatu hari aku sampai, yang
ingin ku peluk adalah diriku sendiri, yang tetap berjalan saat tidak ada siapapun
yang tahu seberapa beratnya.."
Ia menyadari bahwa perjalanan menuju titik terang masih sangat jauh.
Masih ada bertahun-tahun ujian, latihan, dan perjuangan keras yang menunggu di
depan sana. Namun, Ailla tidak lagi takut pada bayangan masa depan. Apapun hal
yang akan terjadi nanti, ia berjanji tidak akan meninggalkan dirinya sendirian
dalam kerapuhan. Aku mungkin belum sampai, tetapi aku tidak berhenti. Dan
untuk saat ini, bertahan adalah caraku untuk menang, biarlah waktu yang menjadi
saksi. Bahwa di sudut ruangan yang sepi ini, di balik dinding-dinding kayu yang
menyerap setiap bisikan doanya, seorang gadis sederhana pernah bertarung begitu
hebat demi mimpinya—tanpa tepuk tangan, tanpa pengakuan dari dunia, tetapi
penuh dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. Suatu hari nanti, senyuman
terbaiknya bukan lagi penutup rasa lelah, melainkan tanda kemenangan sejati di
bawah langit Seoul.


Tuliskan Komentar Anda