Tamara gadis muda yang bercita-cita tinggi demi bangsa nya. Cita-cita yang ingin
menjadi seorang desainer terkenal di Asia, sejak kecil Tamara sangat suka menggambar,
mengamati, dan menjahit baju untuk bonekanya, sampai sekarang ia berada di kelas 3 SMP,
hobynya berubah menjadi cita-cita yang sangat ingin ia gapai.
Waktu kecil ia selalu ditanya kenapa ia ingin menjadi desainer, ia selalu menjawab
"aku ingin dunia tahu keindahan dari batik Indonesia dan keindahan budaya nya." itulah
jawabannya, Tamara sangat suka dengan kain batik hingga setiap pelajaran kesenian ia
selalu menggambarkan bunga, menjadikan nya gambar batik yang indah.
"Mama, besok aku mau ngambil jurusan Tata busana, karna aku pengen jadi
desainer. " kata-kata itu terus di ungkapkannya di depan kedua orangtua, keluarga dan
temannya.
Sampai di hari, dimana cita-cita dan hobynya menjadi tenggelam di dalam lautan
yang dalam.
"Tamara, maaf ya mama sama papa gak bisa nurutin apa yang kamu mau. " ucap
sang mama malam itu Tamara dan keluarga kecil nya sedang berkumpul diruang tamu
setelah selesai makan malam bersama. "Tamara dengerin mama, ini penting buat kamu. "
lanjut mamanya.
"hem, apa ma? Tamara ngelakuin kesalahan ya ma? " tanya Tamara sangat jarang
mamanya itu berbicara dengan nada serius kecuali di saat memarahi Tamara yang
melakukan kesalahan. "Bukan sayang, kamu gak ngelakuin kesalahan apapun, jadi gini...
Kamu mau jadi desainer kan? " tanya mamanya dan di balas anggukan oleh Tamara.
Sebelum mama nya melanjutkan kata-katanya mamanya sempat menghela nafas,
"Maaf ya nak, mama sama papa gak bisa nurutin kemauan kamu yang satu ini. "
Deg.......
"Bukan apa, mama sama papa gak tega liat kamu sekolah jauh, kamu tau sendiri kan
kalau kamu mau ambil jurusan kamu harus ke SMK, sedangkan SMK sangat jauh nak. "
"Tapi kan Tamara bisa ngekos. " jawab Tamara lirih, jujur saja waktu itu semua
perasaan bercampur aduk didalam diri tamara, ia tahu akhirnya ia akan kalah, karena yang
ia lawan adalah orang tuanya sendiri.
"Kamu itu perempuan Tamara, bukan nya papa gak percaya sama kamu, tapi papa
gak mau hal hal yang tidak di inginkan terjadi sayang. " sahut sang papa
"Kalo gitu, mama atau papa kan bisa antar jemput aku, mama juga kan kerja dikota
kan bisa sekalian Tamara bareng mama aja. " balas tamara yang sudah mulai bergemelinang
air mata, tapi ia berusaha menahannya.
Mamanya menghela nafas yang keduakalinya, "kamu tau sendirikan mama kerjanya
gak full hari, mama kerjanya cuman 4 hari, masa kamu 2 harinya gak sekolah. "
Tamara diam sejenak sebelum ia menjawab, dengan penuh pasrah "yaudah kalo
gitu, Tamara juga gak bisa apa apa. " dan yap benarkan, ia kalah lagi dan lagi. "Tamara
kekamar dulu ya ma pa. " pamit tamara.
Ia yang sekarang ini tidak seperti apa yang terlihat, di kamar sebenarnya ia tidak mau
menangis tapi, buliran air bening itu mengalir sendirinya. "Kenapa, kenapa semuanya harus
berkhir tanpa aku mulai dulu? " gumam nya dalam hati, Tamara melirik lemari boneka yang
tak jauh dari ranjang tidur, di sana banyak boneka yang dihiasi dengan bermacam-macam
gaun mulai dari kain batik dan gaun pengantin.
Keesokan harinya....
"Tamara kok mata kamu gitu?, kamu nangis ya? " tanya teman nya Melani, "engga
kok Mel. " balas Tamara, "Dih keliatan banget boongnya, kamu kenapa temanku sini cerita
sama aku inshaAllah temanmu ini bisa kasih masukan. " setelah termakan rayuan manis
temannya itu, Tamara mau bercerita dan ia menceritakan semuanya.
"Hem.... gimana yaa, pasti nya kedua orang tua kamu gitu tuh buat kebaikan kamu
juga kalo soal ini aku gak punya solusi nya yang tepat, tapi aku saranin kamu jangan nyerah
buat ngejar cita-cita kamu itu, kalo kamu nyerah jadinya kita gak jadi bersanding dong. Udah
ya jangan nangis lagi, oh ya tau gak cowok aku-"
"Plis deh Mel, jangan bahas cowok kamu dulu. " cegah Tamara yang masih
cecegukan karena tangisan nya, ia takut temannya setelah memulai cerita bucin yang penuh
kebodohan itu tidak akan ada habisnya.
"Hehehe..... Aku kan mau ngehibur kamu teman. "
Setelah mengetahui bahwa harapanya berakhir hari-hari Tamara dipenuhi dengan
menyendiri di kamarnya, tidak seperti dulu lagi ia yang selalu aktif dalam kegiatannya yaitu
duduk didepan meja belajar sambil menjahit, ini sudah 1 minggu setelah hari itu dan Tamara
hanya di kamar barmain ponsel, ia hanya keluar saat makan dan siap untuk sekolah.
"Tamara sayang, mama berangkat kerja ya tolong kamu jaga rumah. " pinta sang ibu
di hari minggu Tamara hanya membalas dengan deheman kecil karena ia masi lelap tertidur.
Pukul 8:45 Tamara bangun dari tidur nya, seperti yang di pinta sang mama ia membersihkan
rumah menyapu, mencuci piring dan baju, tepat pukul 12 siang semua pekerjaan sudah di
selesaikan nya, dan sang mama sudah pulang dari kerja.
"Mama Tamara ijin ya, mau kerumahnya Melani. " pamit Tamara hari sabtu kemarin
Tamara memiliki janji untuk pergi kerumah Melani, karena Melani menjanjikan sesuatu
padanya.
Di perjalanan yang tak memakan banyak waktu itu, Tamara sudah sampai di depan
rumah Melani, pak satpam yang susah tau langsung menyuruh Tamara masuk ke dalam.
"Non Melani menyuruh nona menunggu diruang tamu. " ucap salah satu pembantu yang
bekerja dirumah Melani.
Melani adalah anak kedua dari pengusaha kaya yang hidup serba ada, berbeda
dengan Tamara yang sederhana tapi kesenjangan itu tidak membuat Melani memilih dalam
berteman, karena baginya semua itu sama saja.
"Eh besty, udah datang aja, ayok sini ikut aku. " ajak Melani menuju kelantai atas
tempat kamarnya berada. "Mama papa ku lagi keluar kota jadi di rumah cuman ada aku
sama kakak perempuan ku dia lagi kerja jadi kita bisa main sepuas nya. "
"Mel kamu gak lupakan sama yang kamu bilang kemarin? " tanya Tamara. "Ouh
engga dong, aku itu anti pikun bukan kaya kamu. " balas Melani. "Sebentar ya. " melani
pergi meninggalkan Tamara yang duduk di sofa merah muda, kemudian di sela-sela itu
pembantu rumah Melani datang dengan nampan yang berisi dua gelas jus jeruk. "ini non
minumnya."
Kemudian Melani datang dengan tangan nya yang menbawa sebuah poster gambar,
"nah jadi gini, kakak aku kan baru-baru ini buat butik terus ini dia lagi cari desainer buat
koleksi butik nya. " mendengar itu Tamara menyimak dengan seksama karena rasa
ketertarikannya, "Aku bilang lah ke kakak ku, kalo aku ada temen yang pintar ngedesain
baju, jadi gini inti nya kalo aku nawarin kamu buat kerja di butik kakak aku kamu mau gak?,
kakak aku juga berharap banget soalnya desain kamu aku kasih ke dia. "
"Loh dari mana kamu dapat desain aku? " tanya Tamara selama ia menggambar
desain ia tak pernah memberikannya kepada orang lain. "Hehehe.... Maaf ya aku lupa,
waktu itu buku diary kamu ketinggalan dilaci meja kamu. " ucap Melani sembari
memberikan buku diary milik Tamara, disana berisikan banyak gambar desain yang di
rancang Tamara berbulan-bulan. "Astaghfirullah Melani kamu ini gak bilang, kamu tau gak
aku nyarinya sampai kemana-mana. "
"Hehehe.... Maaf ya, emm jadi gimana? Kakak aku nunggu jawaban dari kamu. "
tanya Melani. "Nanti lah mel, untuk sekarang aku gak yakin sama kemampuan aku. " melani
menghela nafas setelah mendengar jawaban dari teman nya itu. "Kamu itu seharusnya yakin
sama kemampuan kamu Ara, desain kamu bagus-bagus kenapa kamu gak yakin? aku rasa
semenjak masalah itu kamu banyak berubah Ra. " memang ada benarnya apa yang
dikatakan Melani sejak itu Tamara banyak berubah, Tamara hanya diam tanpa sepata kata ia
hanya menunduk melihat poster yang ada di depannya itu. "Huu.... Aku tau kamu pengen
kan, tapi yaudah kalo sekarang kamu belum bisa, aku kasih kamu waktu, Tamara jangan
patah semangat ya." Melani mengusap-usap tangan Tamara dan ia memberi senyuman
untuk temannya itu.
Keesokan harinya...
"Tamara." ucap Melani kaget saat melihat Tamara sudah beridiri di depan gerbang
rumahnya dengan seragam sekolah, jarang sekali anak itu berangkat sekolah sepagi ini,
Melani bergegas memakai seragamnya hingga ia tak sempat makan sarapannya, "Tamara
kok kamu udah disini? " tanya Melani ngos-ngosan karena berlari menuju gerbang
rumahnya. "Maaf Mel ngerepotin kamu, aku cuman mau tanya tawaran kamu kemarin itu
masih berlaku gak? " tanya Tamara. "Setelah aku pikir-pikir apa salahnya kalo aku coba
dulu." lanjut Tamara memang benar ia hampir tak tidur karena memikirkan tawaran Melani
tentang menjadi desainer dibutik kakaknya.
"Astaga Ra, kan bisa nanti di sekolah aja kamu bilangnya, aku sampai kaget tauk. "
ucap Melani sebenarnya melani sempat berfikir aneh-aneh karena Tamara sepagi itu ke
rumahnya. "Hehehe, maaf ya mel. "
Akhirnya setelah mengambil keputusan, Tamara berhasil di terima bekerja sebagai
desainer oleh kakak Melani, jadi Tamara akan bekerja sambil bersekolah di kesenjangan
waktu sekolahnya Tamara menyempatkan diri menyusun desain-desain barunya tetapi
semua itu di anggap tamara tidak sedang bekerja ia hanya sedang mengambil kelas belajar
menjahit di butik kakak Melani,itu semua di lakukan karena Tamara yang belum cukup usia
untuk masuk dunia kerja,hari terus berlalu minggu berganti minggu bulan berganti bulan,
selama itu kedua orang tua Tamara tidak mengetahui tentang Tamara yang orang tuanya
tahu ia hanya pergi bermain kerumah Melani untuk mengerjakan tugas.
Kini kelas 9, sudah hampir lulus dan Tamara memutuskan untuk meneruskan di SMA
saja, seperti keputusan orang tua nya juga, "Tamara hari kelulusan nanti kamu mau beli baju
yang seperti apa nak? " tanya mama nya, "Gak usah beli ma, Tamara udah punya bajunya. "
balas Tamara sembari sibuk membereskan buku pelajaran yang ada di atas meja belajarnya.
Ibu tamara melihat anaknya yang sangat sibuk itu, "nak mama mau tanya seperti nya
belakangan ini kamu menyembunyikan sesuatu dari mama? " ucap sang mama tiba-tiba
Tamara berhenti sejenak dari kegiatan nya kemudian ia lanjut, "engga kok ma, Tamara gak
ada menyembunyikan apapun dari mama, itu perasaan mama aja mungkin. " balas Tamara
masih fokus dengan beres-beresnya, "nak asal kamu tau, firasat seorang ibu itu tidak akan
pernah meleset, kamu cerita sama mama apa yang kamu sembunyikan nak? "
"Maaf ma, Tamara gak bisa cerita dulu ke mama, Tamara harus kerumah Melani
dulu. " balas Tamara kemudian ia langsung pergi setelah bersalaman dengan mamanya.
Sebenarnya Tamara tak bermaksud untuk merahasiakan dari kedua orang tua nya ini hanya
belum waktunya saja.
"Eh tamara, udah datang aja cepat banget udah makan belum? "
"Udah kak, oh ya kak aku boleh lanjutin baju aku kemarin gak? " Tanya tamara
kearah Selfi Kakak Melani, "boleh dong, ouh ya nanti kamu tolong kasih arahan para pekerja
ya. " pinta kak selfi "okhey" balas Tamara, selain desainer karena kecerdasan nya Tamara
juga ditugaskan di bidang les, para pekerja yang tidak mengerti dengan bentuk dan tata cara
menjahit untuk desain yang di buat mereka akan bertanya ke Tamara. Tamara masuk ke
salah satu ruangan yang ada di butik itu, setengah bulan lalu butik itu di renovasi untuk
Tamara kak selfi merenovasi nya hanya menambahkan ruangan khusus untuk Tamara
membuat desainnya, dan yap di sinilah ia berada sepasang patung manikur berbalutkan kain
berwarna merah Maroon, itu adalah sepasang baju keluarga yang belum jadi.
Tamara berniat untuk membuat baju keluarga, ia ingin di hari kelulusannya nanti
kedua orang tuanya memakai baju yang ia buat dengan tangannya sendiri dari hasil
keringatnya sendiri.
Berjam-jam Tamara menghabiskan waktu didalam ruangan itu, dan ia sudah berhasil
membuat baju itu sudah hampir jadi, "Waw." tamara terkejut saat Melani tiba-tiba muncul
di belakangnya, "Astaghfirullah mel, kamu ni bikin jantung aku berhenti. " Melani tidak
menghiraukan apa kata Tamara ia fokus dengan desain yang di buat Tamara saat ini, "Ini
kebaya janggan kan? " tanya Melani kemudian Tamara mengangguk, "Waaw barani banget
kamu buatnya, tapi jujur ini bagus banget kesannya terlihat mewah banget Ra, hebat kamu
Ra. " Melani sanggat kagum melihat karya temannya itu, itu karya yang setengah jadi apa
lagi setelah sempurna ia tak bisa membayang kan seindah apa Tamara di waktu kelulusan
nanti. “Oh ya kamu udah siapin desain punya ku belum? " tanya Melani satu minggu lalu
Melani memesan sebuah gaun yang akan di kenakannya di hari kelulusan, "udah, tenang
aja, kamu pasti bakal kaget liat hasil nya. " balas Tamara, "ih aku pengen liat. " tak sabar
Melani melihat gaun impian nya. " udah sabar pas hari H aja kamu baru boleh liat. "
"ih jahat, aku pengen liat tau, eh iya tadi aku gak sengaja ketemu mama kamu. " saat
hendak ke butik, melani tak sengaja berpapasan dengan mama Tamara, mama Tamara
sempat menanyakan keberadaan Tamara tapi Melani yang sudah faham dengan teman nya
itu, Melani memberikan alasan yang bisa di percaya. "Jujur Ra, kamu gak ngomong sama
ortukan? " tanya Melani, Tamara tak menjawab dan Melani tau jawabannya. " Belum
waktunya Mel, nanti setelah semuannya siap, aku bakal ngomong ke mereka. "
"Jadi, kapan kamu kasih tau mereka?" tanya Melani, "Nanti." jawab singkat Tamara
kemudian ia melanjutkan jahitannya, Melani hanya menghela nafas mendengar itu, "Aku
harap kamu segera kasi tau kemereka, mereka harus tau apa yang kamu lakuin siapa tau
mereka bisa bantu kesusahan kamu, jangan kamu pendam sendiri. " Tamara tak menjawab
ocehan Melani kemudian melani pergi dari ruangan itu meninggalkan Tamara sendirian.
"Sebenarnya aku takut mereka gak ngizinin aku kalo aku bilang, aku bingung Melani.
" gumam Tamara dalam hati.
Hari kelulusan sudah semakin dekat, dan selama itu pula Tamara tak banyak cerita
hingga suatu hari Melani mendesaknya untuk menceritakan semuanya mulai tentang
pekerjaan nya, "Siapa tau mereka akan berubah pikiran tentang kamu, siapa tau mereka
mengizinkan kamu untuk ngambil jurusan. " ucap Melani meyakinkan temannya itu. "Tapi
mel-"
"Udah cukup gak usah kamu alasan belum waktu nya, bukan waktunya nih aku kasih
pilihan kamu mau ngomong sendiri atau aku yang ngomongin, itu pilihan kamu, aku gak
mau kamu itu hidup dengan penuh kebohongan Tamara, kebohongan kecil bisa membawa
kebohongan yang lebih besar kedepannya, jadi aku harap kamu bisa jujur dalam hal ini."
baru kali ini apa yang dikatakan Melani benar, Tamara kemudian berfikir dan ia menatap
baju yang di buat nya kini sudah jadi.
Keesokan harinya....
Tamara kini berada dikamar nya, ia merapikan baju yang sudah di siapkan nya,
dibariskannya tiga patung itu di pojok kamar nya, kemudian pintu kamar nya terbuka,
"Tamara kamu manggil mama ya? " ucap sang mama, dan ia terkejut saat melihat ketiga
manikur yang sedang di rapikan oleh anaknya itu, "mashallah Tamara itu punya siapa? "
tanya sang mama. "Aku mau hari kelulusan aku besok mama papa memakai baju ini. " ucap
tamara menatap sang ibu. "Tapi nak itu punya siapa? Kamu dapat dari mana? " hati sang ibu
penuh dengan berbagai pertanyaan, kemudian Tamara mengajak mama nya duduk di tepi
ranjangnya, ia menatap wajah cantik seperti bidadari di depannya itu, walaupun keriput
yang sudah mulai terlihat mamanya tetaplah cantik bagai bidadari kayangan.
"Ma, Tamara minta maaf ya selama 5 bulan ini Tamara sudah ngebohongin mama
sama papa, sebenarnya tamara kerja sebagai desainer di butik kak selfi. "
Deg....
"Astaghfirullah, nak kamu kerja? "
"Tapi Tamara bersumpah Tamara gak bermaksud buat ngebohongin mama sama
papa, Tamara cuman takut mama sama papa gak ngijinin Tamara, Tamara cuman pengen
ngewujudin cita-cita Tamara ma, maafin Tamara ya. "
Sebenarnya sang mama sangatlah sakit hatinya setelah mengetahui sang putri nya
membohongi menyembunyikan hal seperti itu darinya, ia merasa ia sudah gagal menjadi
seorang ibu, "Sayang kamu gak salah kok, kamu gak perlu minta maaf ke mama, ini semua
salah mama karna menghambat cita-cita kamu, dan satu lagi semua orang tua selalu ngijinin
apa yang dilakukan anaknya, selagi itu di jalan yang benar, kamu gak ngelakuin kesalahan
apapun anakku. "
"Mama.... Hiks.... Hiks.... " Tamara tak bisa menahan tangis nya akhirnya ia menagis dalam
pelukan sang ibu.
Di hari H kelulusan siswa siswi kelas 9, mama Tamara sudah menceritakan semuanya
ke sang ayah, sama seperti mamanya, ayahnya tak marah sama sekali. "Tamaraaa." panggil
Melani dari kejauhan bagai Cinderella yang berlari dengan gaun birunya, "Tamara makasih
bangeeeet, aku suka banget sama gaun nya, kamu teman terbaik aku. " Melani tak bisa
menahan rasa senang nya ia terus memeluk Tamara.
"Melani, kamu gak kasian sama Tamara dia gak bisa nafas itu. " ucap kakak nya Selfi.
"Eh maaf maaf, abisnya aku senang banget Tamara berhasil buat gaun impian aku. " Melani
terus berputar-putar mengibaskan rok gaun nya yang besar itu. "Tamara, selamat ya aku
dengar kamu lulusan terbaik tahun ini. " ucap Selfi, "Makasih kak, jadi malu di puji sama kak
selfi. " balas Tamara tersenyum, "oh gitu, Tamara di ucapin aku engga, aku juga lulusan
terbaik aku ranking satu." ucap Melani tak mau kalah, " satu dari belakang. " sahut papa
melani. " ih papa jahat. " mendengar itu dua keluarga itu tertawa terbahak-bahak.
"Oh ya Tamara, ada yang ingin kakak sampaikan ke kamu. " ucap kak selfi semua nya
diam dari tawanya karena melihat suasana yang menjadi serius. "Emh apa ya kak?, aku di
pecat? " tanya Tamara bingung ia sibuk mencari kesalahan nya apakah ia melakukan
kesalahan sampai ia di pecat, " kamu ini ngada-ada aja, kakak cuma mau bilang selamat ya
udah keterima di pendaftaran desainer internasional. " mendengar itu semua yang ada di
sana terdiam sejenak. "Maaf kak, aku gak salah dengar kan? " tanya Tamara memastikan
dan di balas gelengan oleh selfi, "kamu keterima di Desainer internasional Tamara. " jelas
Melani.
Perasaan senang membara di dalam diri nya, air mata kebahagiaan mengalir tak
henti, Tamara memeluk kedua orang tuanya sang mama yang terkejut mendengar itu pun
menangis bahagia, "akhir nya, ma Tamara senang banget Tamara berhasil ma. " Tamara
terus bergumam ia tak berhenti dari tangis nya sampai-sampai Melani pun ikut menangis
terharu.
Ternyata satu bulan yang lalu, Tamara mengikuti kompetisi lomba Antar Desainer
dan rancangan nya berhasil lolos babak vinal dan terpilih sebagai juara internasional, kini
Tamara menjalani hidupnya sebagai seorang Desainer walaupun masa kejayaan nya belum
sampai puncak, hidupnya penuh dengan rasa syukur.
Siapa sangka cita-cita yang hampir tenggelam itu berhasil digapainya, itu semua
kerena keberanian dan semangat yang pantang menyerah.
END
Hai teman... Kalian yang memiliki cita-cita jangan putus asa hanya kerna masalah
yang menghalangi, ingat setiap perjalanan hidup itu selalu ada hambatannya, dan setiap
masalah pasti ada jalannya, dan janganlah kamu berbohong walaupun itu tentang hal kecil,
karena berbohong itu sama saja menyakiti perasaan seseorang, dan tidak semua nya bisa
dijalani dengan kebohongan, dan kebohongan tidak selamanya membawa solusi dan
kebahagiaan dalam hidup.
Ingat jangan pantang menyerah hidup ini penuh dengan ujian dan rintangan, jadikan
setiap tantangan sebagai tangga menuju puncak impianmu. Jangan biarkan keraguan
meruntuhkan semangatmu, karena di balik kesulitan, selalu ada kekuatan yang belum kamu
sadari. Percayalah pada diri sendiri, kejujuran adalah kunci kebahagiaan sejati, dan
impianmu layak diperjuangkan.
-P’lorens-


Tuliskan Komentar Anda